Tradisi melukat di Pura Tirta Empul, Tampaksiring, Gianyar, merupakan salah satu ritual penyucian diri spiritual paling populer di Bali. Secara etimologi, kata melukat berasal dari bahasa Jawa Kuno (Kawi) “lukat” yang berarti membersihkan, menyucikan, atau melepaskan kotoran dan hal-hal negatif dari dalam diri.
Makna Filosofis Melukat
Melukat tidak sekadar membasuh tubuh dengan air dingin, melainkan sebuah proses penyucian Tri Kaya Parisudha (tiga hal yang harus disucikan: pikiran, perkataan, dan perbuatan). Air dalam tradisi Hindu Bali dipandang sebagai simbol pembersih energi negatif (klesa), ketakutan, beban emosional, serta penyakit spiritual yang melekat pada jiwa seseorang.
Tujuan Ritual di Pura Tirta Empul
Pura Tirta Empul didirikan di sekitar sumber mata air alami yang dipercaya diciptakan oleh Dewa Indra. Tujuan utama melakukan penyucian diri di tempat ini meliputi:
- Pembersihan Diri (Pembersihan Lahir dan Batin): Melepaskan penat, kecemasan, rasa duka, serta energi negatif akibat dinamika kehidupan sehari-hari.
- Memohon Kesembuhan dan Kesehatan: Air suci (tirta) dipercaya memiliki energi penyembuh alami untuk memulihkan kebugaran tubuh dan kedamaian jiwa.
- Mencapai Kedamaian Pikiran: Aliran air pancuran yang dingin membantu menenangkan pikiran dan menghadirkan fokus kembali (mindfulness).
- Ungkapan Rasa Syukur: Sebagai bentuk permohonan keselamatan dan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa).
Tata Cara dan Etika Melukat untuk Wisatawan
Bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin mengikuti prosesi melukat di Pura Tirta Empul, terdapat etika dan tahapan yang perlu diperhatikan:
- Berdoa dan Membawa Canang Sari: Sebelum masuk ke kolam, peserta menghaturkan doa di area candi sebagai bentuk izin spiritual.
- Penggunaan Busana Khusus: Wajib mengenakan kain (kamen) melukat berwarna hijau khusus yang disediakan di lokasi. Pakaian basah tidak boleh dilepas di area suci.
- Mengikuti Urutan Pancuran: Ritual dilakukan dengan membasuh wajah, berkumur, dan menyiramkan air dari pancuran ke kepala secara berurutan. Ada beberapa pancuran tertentu yang ditujukan khusus untuk upacara kematian/pitra yadnya yang biasanya dilewati oleh peserta umum.
- Menjaga Sikap dan Kesopanan: Menjaga keheningan, bertutur kata sopan, serta menghormati umat lokal yang sedang bersembahyang khusyuk. Wanita yang sedang berada dalam masa menstruasi dilarang memasuki area kolam suci.
sumber : diambil dari tulisan Gemini AI dari beberapa sumber.

